Saturday, 4 July 2009

rasa ini

sepintas kulihat
langit kelam tanpa cahaya
dan kulepas segala penat didada
namun yang terjadi
semua tak berarti
kutanamkan dengan asa
tapi semua hanya sia-sia
aku terdiam,
biarkan semua berlalu
walau masih membekas
dan masalah ini sulit terhempas
sekali lagi kutatap
langit yang amsih suram
membuatku semakin terdekap
dalam kesunyian yang makin mencekam
akankah semua sirna
akankah cuma mimpi belaka
selama langit masih terhalang kabut
angan-angan masih tetap menunggu
kehadiran cahaya terang
pembalut segala kekesalan

Adilkah ini?

Pagi-pagi benar Alya, Cindy, Nasha, dan Naylla sudah berangkat ke sekolah, karena hari ini mereka mendapat jadwal piket. Setelah selesai menyapu, Alya dan Cindy duduk-duduk di teras. Naylla masih menyapu di teras kelas sedangkan Nasha sedang menghapus papan tulis.

Cindy : “Tau nggak Nay, kemarin cerpen kamu dipasang di Mading sama Rico, katanya cerpen kamu bagus banget.”

Naylla : “o..ya? bagus donk, cerpenku dimuat.” (tersenyum lebar)

Cindy tersenyum-senyum dan saling bertatapan dengan Alya.

Cindy : “kayaknya nih, dia naksir sama kamu. Abis dia bilang gini, udah cantik pinter baik hati lagi…”

Naylla : “masa sih?..ngaco ah.”

Alya : “o.iya Nay, kemarin si Davon nitip salam buat kamu.”

Naylla : “Davon? Siapa sih, kok aku nggak tahu yah.”

Alya : “Ya ampun, naylla. Itu loh yang ikut Duta wisata, masa nggak tahu!”

Nasha yang sudah menyelesaikan tugasnya, segera bergabung dengan mereka.

Nasha : “ehm…ehm..lagi pada ngomongin apa nih?”

Semua pembicaraan terhenti.

Nasha : “loh..kok pada diem sih?”

Naylla : “nggak tahu nih sha, lagi pada ngrumpi sendiri-sendiri.”

Cindy : “ceilahhh..bok, lagi ngomongin si nay ama si rico.”

Alya ; “bukan bukan, si nay ama kak Davon.”

Naylla : “ihh..apaan sih, aku nggak tahu juga.” ( tersipu malu )

Nasha : “emangnya..kamu suka sama kak Davon, nay?”

Alya : “biar aku yang ngomong, gini loh kemarin kak Davon nitip salam saying buat Naylla, pastinya kan dia suka sama naylla, iya nggak?”

Nasha : “Nggak juga kali, kak Davon kan emang kaya gitu, suka ngasih-ngasih salam.’

Cindy : “tapi kalau dia beneran suka, nggak papa kan.”

Pulang sekolah mereka masih berada di kelas, untuk merapikan kelas.

Cindy : “ o..ya nay, matematika bab 3 aku belum begitu paham paham banget, ntar sore aku ke rumah kamu yah kita belajar bareng?”

Alya : “aku juga ikut dunk.”

Naylla : “ehmm…Nasha juga kan?”

Nasha : “nggak! Ntar sore aku ada acara.”

Naylla : “ya udah nggak papa.”

Cindy : “ya udah pulang yuk nay.”

……………………………………………..xxxxxxxxxxxxxxxx…………………………..

Sesampai di rumah Nasha langsung merebahkan diri di kamar tidurnya, ia melempar semua buku dan tasnya ke lantai.

Nasha : “ kenapa sih selalu Naylla, Naylla, dan Naylla mereka nggak pernah memberi kesempatan sama aku untuk membuktikan siapa yang lebih pintar. Emangnya naylla itu siapa? Bidadari ? Argghhhhhhhhhhhh”.

Mama : (datang membawa minuman). “ya ampun Nasha berantakan begini, ada apa sayang?”

Nasha : “ nggak papa kok mam, Cuma capek aja.”

Mama : “ ya udah, kamu tidur aja yah.”

Nasha : “ iya mam.”

Esok hari, palajaran sastra Indonesia. Mereka diberi tugas untuk membuat puisi dengan tema remaja. Dan guru akan masuk beberapa menit kemudian. Dalam presentasi ini naylla yang mendapat nilai tertinggi denan puisinya yang berjudul Cinta bukan semata cinta. Apalagi setelah itu, Davin menyatakan bahwa ia benar-benar menyukai naylla. Hal ini membuat nasha menjadi semakin kesal terhadap naylla. Dia berniat untuk menjauhi Naylla.

Cindy : “nay, kok cemberut aja sih. Padahal kan baru jadian?”

Naylla : “jadian? Nggak kok, aku belum bilang apa-apa.”

Cindy : “terus kenapa?”

Naylla : “kamu ngerasain nggak, kalau akhir-akhir ini nasha ngejauhin aku?”

Cindy : “Nggak tuh, tapi ya emang agak dingin gitu deh.”

Naylla : “ aku nggak tahu, aku punya salah apa sama dia, dia diemin aku.”

Cindy : “udah deh, itu Cuma perasaan kamu aja, nasha kan emang kaya gituh dari dulu.”

Setelah selesai istirahat Pak adit, membagikan ulangan matematika kemarin. Dan nilai tertinggi 100 diraih oleh Nasha.

Cindy : “ masa sih Nay kamu nggak dapat nilai 100?”

Naylla : “Nggak, emang kenapa? Wajar aja kan.”

Cindy : “ya nggak wajar lah, kamu kan juara kelas.”

Alya : “mungkin nay lagi kurang konsen aja kali.”

Nasha : “kurang konsen atau emang nggak bisa? Terus buat apa kalian bertiga belajar kelompok?”

Naylla : “iya sha, aku akui emang aku nggak lebih pintar dari kamu.” ( naylla tersenyum)

Nasha : “ kalau udah ngerasa bodoh, belajar donk. Jangan pacaran melulu!”

Naylla : “sha, aku tuh nggak pacaran.”

Nasha : “ terus, kamu ngapain sama davon?belajar hah!”

Naylla : “aku nggak ngapa-ngapain, aku juga blum bilang apa-apa sama dia, aku masih belum boleh pacaran, sha.”

Nasha : “bagus donk, belajar yang rajin ya!” (meninggalkan ruangan)

Sejak saat itu Nasha menjadi anak pendendam, ia tidak suka Naylla mendapatkan nilai yang lebih baik darinya. Ia menganggap naylla sebagai saingan. Dan bergabung dengan gank-gank sekolah.