I LOVE YOU REAL
By Aryn lovella
Suatu pagi , dimana mahasiswa-mahasiswa baru pertama kali masuk sebagai seorang mahasiswa. Sepertinya kebiasaan di SMA berangkat lebih awal belum bisa dihilangkan, kebanyakan mahasiswa sengaja berangkat pagi karena tidak sabar ingin mengenalkan identitas dirinya sebagai seorang mahasiswa kepada teman-temannya atau kakak tingkatnya, tentunya mereka juga ingin mencari teman baru siapa kiranya yang akan satu kelas dengannnya.
Tiga orang gadis, duduk-duduk di sebuah beranda ruangan. Tampaknya mereka sedang mengamati pemandangan yang terlihat asing bagi mereka, sambil berbincang-bincang.
“ jen, lo udah ruangan yang bakal jadi kelas kita belum?” Tanya rossa
“ belum tuh, emang disebelah mana sih?” jenny balik bertanya
“ Tanya arynsa tuh, katanya kemarin udah nyari.” Kata rossa
“ryn, beneran lo udah tau lokasinya.”
Sementara itu arynsa sibuk dengan notebooknya, sama sekali tidak menjawab pertanyaan jenny. Jenny dan Rossa saling berpandangan, memberikan isyarat bahwa mereka akan meninggalkan arynsa sendirian. Jenny memainkan mulutnya seperti ucapan satu…dua….tiga….merekapun pergi.
Karena asyiknya bermain-main arynsa sama sekali tidak menyadari kedua temannya sudah meninggalkannya, bahkan ketika seseorang duduk sampingnya.
“ Eh lihat deh, bajunya bagus banget. Ihh warnanya keren banget …” kata arynsa
“ ia bagus banget, apalagi kalau kamu yang pakai pasti kelihatan cantik.”
“ ia lah, arynsa gitu. Makanya ntar pulang kuliah kita ke mall, kayanya sih di Venuz beautique udah ada.”
Kata arynsa tidak menyadari dengan siapa dia bicara
“ maaf, tapi aku gak bisa. Ntar aku ada meeting BEM.”
Spontan arynsa kaget dan menoleh, “ eh kamu siapa? Jenny sama rossa mana?”
“Jenny, rossa siapa ?”
“ yang tadi disini.” Kata arynsa dengan muka merah dan tertunduk malu
“ dari tadi gak ada siapa-siapa kok. Ya udah kenalin namaku Revand Agustine. Panggilnya Rev aja.”
“agus aja sih, kelihatannya lebih kalem gitu.” Kata arynsa bercanda
“ ahh kamu bisa aja, bukan kalem lagi tuh tenggelem sekalian . tadi nama kamu arynsa ya?”
“ia, short namenya ryn aja. Ya udah gus agus aku mau nyari temen-temen aku dulu ya.” Kata arynsa beranjak pergi
“ ryn aryn, kasih nopemu donk?”
“ ntar aja deh, add fb ku aja ‘arynsa love’.”
“ok, sipp….”
Ternyata hari pertama, para dosen besar masih disbukkan oleh rapat –rapat , sehingga para mahasiswa diminta untuk menunggu sampai dosen selesai rapat. Arynsa dan kedua orang temannya berdiri disebuah sudut beranda kelasnya memandang ke arah depan. Tampak gedung-gedung menjulang yang tak lain adalah rektorat kampusnya, disekelilingnya
Membentang taman hijau , tentu saja lahan pertanian dan peternakan. Kemudian ia menceritakan kejadian tadi pagi saat ditinggalkan teman-temannya. Sesekali ia mencubit-cubit karena kesalnya kepada kedua temannya. Tiba-tiba arynsa terdiam pandangannya tertuju pada seorang pria yang sedang mengobrol dengan temannya. Jenny dan Rossa yang sejak tadi memperhatikan arynsa bercerita menjadi bingung sendiri.
“ ah mulai lagi nih, aryn kalau lagi cerita terus lihat cuci mata pasti langsung keputus-putus. Gak asyik ah.”
“ya udah aku terusin, ehmm….” Pandangan arynsa masih tertuju pada pria itu
Jenny menarik tangan arynsa menghampiri pria yang sejak tadi ia perhatikan .
“ langsung samperin aja.”
“eh tapi….”
Kemudian mereka berkenalan dengan kedua pria itu dan ternyata mereka masih satu kelas. Mereka adalah leo dan jean.
“ Jean…”
“aa….ryn…..sa” kata arynsa dengan begitu lembut dan pelannya serta menjabat tangan
Sejak itu mereka berlima menjadi begitu akrab, seperti membentuk sebuah kelompok. Setiap hari mereka selalu menyempatkan waktu untuk berkumpul-kumpul walaupun harus pulang malam, seringkali arynsa berbohong kepada orangtuanya kalau ada jam tambahan padahal sebvenarnya tidak ada. Tetapi ia berdiskusi dengan teman satu genknya tentang semua hal yang terjadi di kampus, dqari pelajaran, makanan, sampai masalah cewek cowok pun juga dibahas. Antara jenny, rossa, dan leo suka sekali membahas tentang tips-tips jadi popular diantara para mahasiswa –mahasiswi. Cara terbaru menggaet cewek-cowok, cari perhatian cewek-cowok. Termasuk cari perhatian dari para dosennya, tujuannya kalau unlangan biar gak galak –galak. Beda sekali dengan Jean dan arynsa, mereka seringkali mengulang kembali mata kuliah yang tadi diajarkan dan juga mengerjakan tugas-tugas baik pribadi maupun kelompok. Kalau tidak, mereka justru membicarakan tentang masa depan mereka kelak. Mereka sudah mempunyai pandangan tentang bagaimana kehidupannya dimasa mendatang. Karena itulah mereka sering sharing tentang problem-problem mereka hingga masalah pribadi pun mereka diskusikan. Sehingga menimbulkan kecocokan diantara keduanya.
Sabtu malam, arynsa sudah stand by di dalam kamarnya , bukan untuk tidur tetapi ia siap untuk me-loginkan akun messengernya untuk chatting dengan jean. Tidak tau kenapa setiap ia berbicara dengan jean walau Cuma lewat messenger tapi dia sudah merasa senang sekali. Bahkan kadang ia berharap jean mau mengajaknya pergi jalan-jalan.
“ yah, tumben kok jean gak nyala sih. Sebel deh, kamu kemana sih jean….jangan-jangan ngedate sama ceweknya lagi. Ahh…arynsa gak usah mikir yang macem-macem, palingan lagi dinner sama familynya. Lagian dia kan udah janji mau online malam ini.” Kata arynsa pada dirinya sendiri dengan perasaan yang gelisah.
Disaat ia sedang menunggu jean online, ia tersentak oleh ketukan pintu. “ masuk aja .“
“ lho..kok belum siap-siap tuh ada temen kamu dibawah katanya mau ngajak aryn jalan.” Kata mama
“beneran ma?” kata aryn dengan wajah berbinar-bibar
“ia tuh udah nungguin kamu daritadi, mama kira bik onah udah manggilin kamu. Ya udah mama ke dapur dulu mau Bantu bibik buat makan malam”
“ia ia mam…”
“ya ampun ternyata firasat aku benar jean ngajak aku hang out.” Kata arynsa begitu girangnya
Sesegera mungkin ia mematikan notebooknya dan berdandan berias diri semolek mungkin. Sambil bernyanyi-nyanyi , “ ada rasa yang tak biasa yang mulai kurasa….ohhh…” segera ia kebawah dan menghampiri temannya itu.
“ helloww….aku udah siap….” Sapa arynsa dengan senyum lebar
Revand menoleh kea rah arynsa yang terlihat begitu anggun malam ini.
“ Revand?”
“ wow, my princess is so beautifull today. Even I know ev’rytime you always look so perfect.”
“udah deh ya, gak usah ngeledek aku mulu…kejutan banget kamu datang kesini, kirain udah lupa sama aku.”
“gak lah, justru sebenernya, tiap hari aku tuh nyariin kamu terus. Tapi gak ketemu ketemu, abisnya kalau di facebook kamu gak pernah bales pv-an aku sih, akhirnya aku Tanya-tanya deh satu persatu temen kamu …eh baru dijawab tadi, langsung aja aku samperin kesini.”
“ o gitu ya…”
“jadi keluar gak nih?” Tanya Revand
Arynsa mengangguk pelan dan menghela nafas panjang, “ huh, jean kamu kemana sih… gak ngasih aku kabar apa kek, jangan-jangan beneran lagi ngedate nih….?” Bisik arynsa dalam hati.
Selama semalam bersama revand cukup mampu menghibur hati arynsa, begitu humoris dan unik swkali. Banyak sekali pengalaman-pengalaman yang diceritakan kepadanya. Apalagi revand adalah seorang aktivis sejak duduk di sekolah dasar sehingga tidak habisnya kata-kata yang terucap dari bibirnya yang berwarna merah muda karena kulitnya yang begitu putih dia memang ada darah darah bule . Tapi sama sekali tidak menarik hati arynsa, walaupu ia terus memandang segala kelebihan revand tetap saja ia merasa bosan sendiri. “ Revand selalu ada setiap aku butuh, tapi kenapa aku tidak merasa membutuhkannya ya… aku malah mengharapkan orang lain yang gak tahu lagi ngapain, lagi sama siapa, gak tahu lagi mikirin aku apa gak…huh.” Bisik arynsa dalam hati dan menghela nafas panjang.
“ eh ryn, kamu kenapa?”
“gak papa, ngantuk aja….”
“dasar, baru jam 9 nih…kayak anak kecil aja sih kamu. Ya udah aku anterin pulang deh.”
Revand pun mengantar arynsa pulang ke rumahnya karena ia sudah terlihat begitu ngantuk dan kecapaian.
Sampai dirumah arynsa langsung berlari menuju kamarnya, bukan untuk tidur tapi untuk membuka messengernya. Betapa sedihnya dia, ternyata jean tidak online juga. Ia segera mematikan laptopnta. Kemudian merebahkan tubuhnya. Hingga ia terdur pulas.
Hari ini waktu kuliah haya satu mata kuliah saja, sehingga mereka pulang lebih awal . jenny, rossa, dan leo sudah sepakat ingin main ke rumah jean . tetapi arynsa masih kesal dengan jean tentang kejadian yang semalam. Jean haya minta maaf karena ia disuruh mengantar mamanya ke tempat arisan .
‘” kenapa sih ryn, gitu aja kok marah, jean kan udah minta maaf” kata jenny
“ ya tapi kan setidaknya dia bisa sms aku, aku kan dia online semaleman. Cvoba kalian bayngin gimana rasanya.”
“emang segitunya ryn?” Tanya rossa
Arynsa terdiam tanpa sadar ia menunjukkan rasa sukanya dengan jean.,”ehm gak sih….tapi hari ini aku lagi gak ikut kumpul deh”
‘ehmmm…. Kencan ya sama kak revand?”
Jean tiba-tiba nimbrung dalam bincang-bincang mereka, “ ehm..siapa yang mau kencan dengan revand nih?
Kata jean berdehem –dehem
“tuh aryn…je”
Arynsa dan jean saling berpandangan, “ aryn, kamu masih marah sama aku?” Tanya jean pelan
Arynsa hanya memalingkan mukanya kemudian menggelengkan kepalanya.
“ aku bener-bener minta maaf, aku gak kepikiran buat sms or calling, aku ….”
“kamu ugak perlu kinta maaf je, kamu gak salah .. dan gak perlu jelasin apa-apa…maafin aku, aku emang gitu keras kepala and possessive… ya udah aku pergi dulu.” Kata arynsa dan meninggalkan mereka
“ possessive…..arynsa , apakah maksud kamu …..” jean tersenyum lebar
“ jean ngapain lo senyum-senyum sendiri?” kata rossa
“gak papa kok….”
Hari hari berlalu hubungan arynsa, jenny, rossa, leo, dan jean menjadi renggang karena mereka sudah bukan satu kelompok belajar lagi, arynsa dan rossa terpisah sendiri-sendiri sedangkan jenny, jean dan leo masih satu kelompok karena kelompok belajar didasarkan nomor presensi. Walaupun begitu mereka masih sering berkumpul bersama untuk sekedar bercerita-cerita. Tetapi arynsa lebih banyak konsentrasi pada kelompok barunya bahkan ia terlihat lebih akrab dengan Robin, Adrian, Julie dan yang lainnya.
Terkadang, ketika arynsa menulis rangkuman kelompoknya sesekali robin mengusap wajah arynsa dengan tissue, tentu saja hal itu mengundang perhatian beberapa mahasiswa yang lain untuk bersorak. Tetapi robin tidak menghiraukannya. Ia terus saja melakukan hal itu setiap berada di dekat arynsa dan terus menggodanya. Arynsa yang merasa begitu risih selalu mencoba mengerjakan tugasnya secepatnya agar bisa cepat pulang dan jauh dari si robinson itu.
‘” udah selesai ryn?” kata robin
“udah, nih tinggal kasih cover aja. Udah yah aku pulang dulu..”
“ eyy..ntar aja, aku anterin pulang”
“gak gak makasih.”
Arynsa langsung saja barlari keluar sebelum robin memaksanya untuk naik mobilnya, karena seperti kata teman-temannya yang lain robin selalu membuat a lasan untuk mengajak targetnya jalan-jalan , katanya lapar lah mau beli apa dulu lah pokoknya ada ada aja alasannya. Di luar ternyata jean sudah menunggunya daritadi.
“mau pulang ya.. sekalian aja yuk, kita kan satu jalur”
Tanpa piker panjang arynsa menyetujui tawaran jean, dan baru kali ini jean mengajaknya untuk mampir sebentar ke sebuah resto untuk sekedar berbincang-buincang.
“tadi kelihatannya kamu mesra banget sama robin, ada hubungan apa sih kalian berdua?”
“ what? Mesra …gak banget deh, kamu tahu sendiri kan gimana dia, emang suka flirt-flirt gitu deh sama cewek…”
“tapi kan seharusnya kamu bisa ngejauhin dia kan…?”
“ jauh gimana maksudnya? Kita satu kelompok gak mungkin donk aku ngejauhin kelompok aku…lagian gak papa kan , kamu juga pernah deket sam a vina, chika, laurine juga padahal mereka kan bukan kelompok kamu” kata arynsa sdengan wjah cemberut
“ ia ryn, tapi aku tuh cemburu sama robin dia bisa nyentuh kamu segitu deketnya tapi aku gak….”
Arynsa terpana dengan kata-kata yang diucapkan jean… dia terdiam membisu….entah senang gembira malu atau apa. Kemudian ia tersenyum.
“udah ah, pulang yuk..udah sore ih…”
“ya udah…”
(saat kau ingat aku ku ingat kau, saat kau rindu aku juga rasa ku lakukan yang terbaik yang bisa ku lakukan tuhan yang tahu ku cinta kau”)
Semakin hari hubungan arynsa dan jean bartambah dekat, mereka jadi sering jalan berdua. Tetapi tak satupun orang curiga karena setiap kali ditanya mereka hanya menjawab sebagai teman saja. Lagipula jean juga sering mejadi tempat curahan rossaline , bahkan sampai membuat rossa menyukainya.
“ jean, sebenarnya ada hubungan apa sih antara kamu dan aryn?” Tanya rossa pelan
Jean terlihat terkejut dan terbata-bata tidak mampu mengatakan sesuatu, “ gak ada papa kok.”
“ kelihatannya kalian tuh deket banget, smsanya dalam banget.”
“dalam gimana maksudnya?”
“ya pokoknya gitu deh, kamu jarang banget bales sms aku je.”
“ya udah maaf deh, mungkin aku lagi sibuk atau lagi kemana gitu. Tahu kan kalau keluar aku jarang bawa handphone.”
“ kamu tahu gak, aku sayang sama kamu. Kamu tuh asyik banget diajak ngibrol, diajakn curhat. Aku damai disamping kamu. I love you jean”
Sekali lagi jean terkejut dengan apa yang diungkapan rossaline, dia bungung sekali harus mengatakan apa. Tapi tak berapa lama kemudian ia kembali tersenyum dan memegang tangan rossaline.
“ apa yang rasakan sama seperti apa yang aku rasakan , dan itu memang cinta tapi sebagai seorang saudara. Kamu butuh seseorang pelindung seorang yang mengerti masalah-masalah kamu saat ini. Dan biasanya seorang kakak lah yang mampu membimbing di kala ada problem karena mungkin juga lebih berpengalaman.” Kata jean dengan nada yang begitu lembut kemudian ia melepas genggamannya.
“iah mungkin kamu benar je, aku anak tunggal gak punya kakak atau adik. Di rumah aku selalu kesepian, mami dan papi gak pernah ada waktu buat aku. Mereka selalu saja sibuk. Makanya aku males dirumah, sampai aku ketemu kamu dan kamu beda banget sama yang lain.” Kata rossa dengan sedih
“rossa, aku siap kok jadi tempat curhat kamu kapanpun kamu mau. Anggap aja aku sebagai kakak kamu.”
“maksih ya je…” roissa memeluk jean dengan begitu eratnya
“ya rossa, kalau kamu mau kamu boleh panggil aku sebagai kakak.”
Sepulang kuliah , arynsa melihat jean sedang bercanda dengan vina. Saking asyiknya bersenda gurau mereka tidak mengetahui kalau arynsa berada disamping jean. Vina masih terus saja mengajak jean bercanda dan sesekali terucap kata-kata yang manja. Berulang kali mencoba untuk memeluknya. Ketika jean menoleh kesamping, dia dikejutkan oleh arynsa dengan muka yang msam.
“ vin, duluan ya.” Jean memberikan isyarat untuk pergi bersama arynsa
“ya..besok lagi ya..” kata vina menggoda
Sepanjang perjalanan pulang arynsa hanya terdiam dengan muka cemberut.
“ tadi vina tuh bercandanya kebangetan, masa mau aku clubbing. Udah tahu aku gak suka keluar malam,” jean memecah kesunyian
“ pastinya kamu nolak donk?”
“ialah…”
“bagus tuh…”
“ryn, tadi rossa nanyain tentang hubungan kita.Daia tuh Tanya terus, tiap kali aku jalan sama kamu sms kamu katanya dalam banget pakai kata saying-sayang segala. Aku bingung banget mau bilang gimana. Ryn, sebenernya kamu tuh nganggep aku sebagai apa?” kata jean pelan
“ ia aku saying kamu sebagai seorang sahabat sejati.” Kata arynsa dengan tersenyum lebar
“baik.”
Kemudian suasana kembali menjadi hening seperti semula sampai tiba dirumah.
Akhir-akhir ini arynsa menjadi lebih dekat dengan revand, karena ia sering membantu arynsa mengerjkan tugas-tugasnya secara sukarela bahkan kadang juga mencarikan materi-materinya. Fakultas revand memang dekat dengan perpustakaan dia juga sangat gemar membaca buku, jadi ia cukup mengetahui beberapa isi buku- buku itu. Beberapa kali arynsa menghindari revand, tapi ia tetap saj asering meluangkan waktunya untuk menemui arynsa, wawaupun harus datang bke rumahnya. Hal itu membuat jean ccemburu, ia juga selalu berusaha mengerjakan tugas bersama arynsa. Semua literature internet, buku-buku, dan bertanya kepada beberapa narasumber dari kenalan orangtuanya juga di interview. Akhirnya, tampak seperti sebuah kompetisi yang justru sangat menguntungkan arynsa karena hamper semua informasi yang ia perlukan . selalu sudah tersedia. Tapi disisi lain ia merasa bingung ketika keduanya ingin megajaknya keluar pada waktu yang bersamaan.
“ryn, beruntung banget lo. Ada dua prajurit yang selalu siap sedia.” Kata rossa
“ ia yah, kalu begini terus kali aja kuliah diwakilin ya.” Kata arynsa bercanda
“ kalau gue , gak mau tuh kuliah diwakilin. Jadi gak bisa nemuin davy donk!.” Kata jenny
“ itu sih lo jen, duh duh yang baru jadian.traktirannya mana nih?”
“jangan ngiri donk ross.”
“ kayaknya rossa gak perlu ngiri tuh sama kamu, soalnya kemarin Adrian tuh bilang ke aku. Kemarin ngirim bunga ke rosssa.”
“ ohh jadi yang ngirim bunga tuh sih Adrian, norak banget deh . gue tahu Adrian tuh gak bisa bikin puisi nilai sastranya kan jelek. Masa kemarin ngirin puisi yang romantis banget.”
“ cie cie….ya kali aja gara=gara jatuh cinta sama kamu nilai sastranya jadi bagus, ya gak ryn?”
“yupz.. bener banget..”
Begitu asyiknya mereka berbincangbincang tentang todays event yang terjadi hari ini.
Malam ini arynsa merasa malas belajar, , ia iseng-iseng membuka messengernya untuk membuang rasa boringnya. Selain itu ia membuka beberapa situs game untuk sekedar hanya ingin melihat-lihat, siapa tahu ada game terbaru. Saking asyiknya membuka situs game ia lupa dengan kalau sedang online di messengernya. Ketika ia membuka ia mempunyai beberapa pesan offline dari revand,
Rev_90: night arynsa?
Rev_90: arynsa, are u thea?
Rev_90: ya udah aku cm mau blng, aku udah nemuin literature bwt tgs km, tp aku g bs dtg k kls km, jd km hrs dtg sndr k perpus, aku tunggu jam 8.
Rev_90: offline
“ya ampun, lupa kalau lagi online. Daripada ntar begini lagi mendingan aku matiin aja ah. Tapi a ku ke perpus, sendiri? Gak ah, minta ditemenin rossa aja deh.” Kata arynsa pada dirinya sendiri
Tepat jam 8 arynsa dan rossa p erpustakaan tetapi tiba disana hamper jam sembilan. Untungnya revand masih berada disana.
sorry, telat. Tadi jalannya macet.”
“gak papa, tapi beneran jalan kampus kita macet? Emang ada operasi apaan?” canda revand.
Arynsa hanya tersipu-sipu malu karena ketahuan bohongnya.
“ya uda ini bukunya, terserah mau dikembalikan kapan. Tenang aja ini buku asli punyaku sendiri. Okey?”
“yups..”
“aryn, ntar malem ada acara gak?”
‘gak ada, emangnya kenapa?
“kalau gak keberatan, aku mau ngjak kamu keluar. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”
Arynsa memandang kea rah rossa yang sejak tadi hanya sibuk memainkan handphonenya. Kemudian rossa mengangguk memberikan isyarat bahwa arynsa menyetujui revand.
“okay deh.”
‘baik. Ntar ku jemput kamu jam 7.” Kata revand senang
“yah…” kata arynsa ragu-ragu
Ternyata rossa menyampaikan hal itu kepada teman satu genknya termasuk kepada jean. Jean sgera menemui arynsa untuk membenarkan cerita rossa. Setelah arynsa membenarkan hal itu, jean jadi kelihatan sedih. Dia hanya memandangi wajah arynsa dengan tatapan yang begitu lemah. Sesekali arynsa mencoba membalas tatapan jean dengan senyuman. Tetapi jean masih terlihat sedih. Namun d ia segera menyadari, mungkin saja jean cemburu kepada revand. Ia mencoba menatap jauh ke dalam mata jean, “ apa benar jean cemburu sama revand. Atau memang lagi ada masalah?” Tanyanya dalam hati
“ je, kamu cemburu ya?”
“ia, aku cemburu. aku udah berkali-kali bilang sama kamu. Jujur, aku emang cemburu setiap ngelihat kamu dengan laki-laki lain, termasuk ketika kamu jalan sama leo.”
“tapi dia kan temen kamu juga.”
“gak tahu, tapi aku ngerasa gak rela aja ketika setiap laki-laki bisa deket sama kamu. Mungkin aja kamu bakalan suka atau mungkinjatuh cinta sama mereka. Tapi gimana kalau mereka nyakitin kamu, aku gak mau itu terjadi, ryn.”
“ jadi, sebenernya kamu saying kan sama aku?” kata arynsa tersenyum senang
“ia ryn, aku saying banget sama kamu sebagai seorang teman sejati seperti yang dulu kamu bilang. Dan aku gak mau kamu terluka. Aku gak kan biarkan siapa pun nyakitin kamu.”
Arynsa menatap mata jean tajam, “ jean, kenapa gak mau bilang aja kalau kamu cinta sama aku, kenapa kamu nyembunyiin perasaan kamu.” Bisik arynsa dalam hati
“okay, kamu pernah gak ngerasaain perasaan seperti ini sebelumnya, kepada temen-temen cewek kamu may be?” kata arynsa memancing
“maksud kamu?”
“yah, mungkin aja kamu tuh emang selalu care sama semua cewek yang kamu anggap sebagai best friend, bener kan?”
Jean mengangguk pelan, “ maaf arynsa, ini bukan saat yang tepat buat nyatain perasaan aku yang sebenernya, aku harap aku bisa berada di sampingmu ketika kamu butuh.” Bisik jean dalam hati.
Hari ini cukupu melelahkan, banyak sekali eksperimen yang harus diselesaikan secepatnya. Jean merasa begitu lelah, ia pun berbaring di kamar tidurnya. Berulangkali mamanya memanggil untuk makan malam, tetapi ia hanya menjawab “ia nanti…nanti ma” pikirannya melayang-layang, bayangan tentang arynsa selalu menghantuinya, apalgi ketika dia bilang “ care sama semua cewek yang kamu anggap sebagai best friend…” kata-kata it uterus terngiang-ngiang dipikirannya. “ aku gak pernah care sama seorang cewek sampai seperti ini, baru kali ini aku merasakan hal yang sedalam ini. Ia, aku suka kamu, aku sayang kamu, dan I love you real. ini kenyataan dari hati aku yang terdalam, aku cinta kamu arynsa, aku sangat sayang kamu. Tapi aku gak tahu, apakah kamu juga meraskan hal yang sama. Aku ragu, walaupun sejak pertama aku telah merasakan getaran-getaran yang match dengan hatiku. “ kata jean kepada dirinya sendiri.
Sementara itu, arynsa dan revand sedang berjalan-jalan menikmati panorama malam yang begitu indah. Mereka duduk di tengah taman yang dikelilingi oleh sumber cahaya yang remang-remang. Di bawah sinar bintang, yang seperti intan berlian, senantiasa berkelap-kelip silih bergantian. Angin berhembus lembut membelai-belai rambut arynsa yang panjang terurai.
“ kamu manis banget, tapi sayangnya rambut kamu kusut tuh.”
“ ihh mulai lagi deh, ngeledekin aku…” kata arynsa kesal
“ eh beneran kok, sini aku Bantu ngerapiin rambut kamu…”
“ gak ah makasih, jadi malu…” kata arynsa tersipu-sipu
“gak papa…”
Revand mulai menata helaian rambut arynsa, begitu lembut dan sangat penuh perasaan. Hingga akhirnya revand berada tepat di depannya, mereka pun bertatapan begitu dekat sekali. Semilir angin menjadi terasa dingin menyentuh kulit, dan tiba-tiba jantung pun berdetak cepat, dada menjadi berdebar-bedar, semua bulu roma menjadi merinding dan terasa bergetar-getar. Ketika revand membelai wajah arynsa.
“ arynsa, sejak pertama aku lihat kamu aku denger suara kamu. . Aku sudah yakin dengan perasaanku. Aku percaya you’re an angel whom God given gift to me. That why, I wanna say that I really love you, arynsa.” Kata revand dengan begitu romantis
Sungguh hal itu membuat arynsa tersentuh hatinya, kata terindah yang pernah ia dengar, tidak ada sedikitpun perasaan bimbang ataupun ragu, gugup, nervous, dan lain-lain. Ia merasa begitu tenang, walaupun tak sepatah katapun terucap dari bibirnya. Ia membiarkan revand begitu dekat dan semakin mendekat. Namun ketika revand hamper menyentuh bibirnya, tiba-tiba saja dia menghindar.
“kamu gak papa kan ryn?”
‘iah… iah gak papa…” kata arynsa dengan gugup
“jadi, apakah kamu bersedia menjadi pacarku?”
“ehm…. Aku gak bisa jawab itu sekarang, masih banyak hal yang perlu dipertimbangkan, rev, aku harus bilang ke mama atau papa atau mungkin temen aku.”
“okay, aku akan nunggu kamu sampai kapanpun, tapi kamu harus janji. Kamu akan ngasih tahu aku, kalau kamu udah siap jawab.”
“okay. Aku janji.”
Hari ini perkuliahan jam siang, arynsa sengja mengundang rossa dan jenny untuk main ke rumahnya terlebih dahulu. ia menceritakan kepada mereka bahwa revand sudah menyatakan cintanya kepada arynsa.
“ ya udah terima aja, emang kelihatannya dia beneran sayang sama kamu ryn.” Kata jenny
‘ ia ryn, ngapain piker panjang,”
Arynsa menghela nafas panjang, “ ehmm…menurut kalian jean tuh sayang gak sama aku?”
Semua terdiam dan saling berpandangan.
“ ia juga sih, kelihatannya juga begitu. Emangnya dia juga bilang gitu sama kamu?” kata rossa
“ ia gak pernah bilang dia suka atau cinta sama aku tapi dia juga selalu care sama aku, setiap ada masalah dia membantu aku. Dia juga sering curhat ke aku tentang keluarganya, aku juga gitu, kita sering share.”
“pantesan, kalian sering jalan berdua gak ngajak-ngajak.”
“tapi dia sering juga bilang ke aku, aku dia cemburu bila ngelihat aku sama cowok lain.’
“ia bener tuh, dia sering banget Tanya ke aku ketika kamu lagi bareng kak revand.” Tambah rossa
“lagian, aku kan gak tahu betul gimana revand.”
‘ya udah nta pulang samperin jean aja, tanya gimana perasaanya ke kamu”
“okay.”
(bersambung)
No comments:
Post a Comment